- Papatuk (Congo); bagian ujung kujang yang runcing, gunanya untuk menoreh atau mencungkil.
- Eluk (Siih); lekukan-lekukan atau gerigi pada bagian punggung kujang sebelah atas, gunanya untuk mencabik-cabik perut musuh.
- Waruga; nama bilahan (badan) kujang.
- Mata; lubang-lubang kecil yang terdapat pada bilahan kujang yang
pada awalnya lubang- lubang itu tertutupi logam (biasanya emas atau
perak) atau juga batu permata. Tetapi kebanyakan yang ditemukan hanya
sisanya berupa lubang-lubang kecil. Gunanya sebagai lambang tahap
status si pemakainya, paling banyak 9 mata dan paling sedikit 1 mata,
malah ada pula Kujang tak bermata, disebut “Kujang Buta”.
- Pamor; garis-garis atau bintik-bintik pada badan kujang disebut
Sulangkar atau Tutul, biasanya mengandung racun, gunanya selain untuk
memperindah bilah kujangnya juga untuk mematikan musuh secara cepat.
- Tonggong; sisi yang tajam di bagian punggung kujang, bisa untuk mengerat juga mengiris.
- Beuteung; sisi yang tajam di bagian perut kujang, gunanya sama dengan bagian punggungnya.
- Tadah; lengkung kecil pada bagian bawah perut kujang, gunanya untuk
menangkis dan melintir senjata musuh agar terpental dari genggaman.
- Paksi; bagian ekor kujang yang lancip untuk dimasukkan ke dalam gagang kujang.
- Combong; lubang pada gagang kujang, untuk mewadahi paksi (ekor kujang).
- Selut; ring pada ujung atas gagang kujang, gunanya untuk memperkokoh cengkeraman gagang kujang pada ekor (paksi).
- Ganja (landéan); nama khas gagang (tangkai) kujang.
- Kowak (Kopak); nama khas sarung kujang.
Amat menarik ketika merenungkan keberadaan Kujang tersebut. Penulis melihat dari sisi yang lain keberadaan dan makna Kujang raksasa di depan 'Sindang Reret Hotel dan Restoran' Lembang Bandung ini (perhatikan gambar diatas).
Para pengunjung Restoran 'Sindang Reret' Lembang Bandung seolah diingatkan oleh Kujang raksasa ini.
Pusaka Kujang ini dengan tegak menunjuk ke arah langit mengisyaratkan agar kita selalu ingat kepada Tuhan sang pencipta jagad raya ini. Kujang ini tetap tegak tidak goyah sedikitpun selama 24 jam penuh. Tetap kokoh di waktu pagi, siang, sore, dan malam hari. Tetap kuat walau diguyur hujan, panas, dan dinginnya udara. Dia berharap kepada kita untuk selalu tegar dan kuat dalam menghadapi gelombang dan badai dalam hidup ini dengan bersandarkan kepada Tuhan. Ketika menerima anugerah 'kegembiraan' dihadapi dengan rasa syukur dan ketika ditimpa 'kesusahan' dihadapi dengan sikap sabar.
Perhatikan badan Kujang yang berwarna keemasan. Emas benda yang sangat berharga. Emas berada di tempat yang mulia. Emas adalah logam mulia. Apa yang dapat kita petik dari sini ? Perilaku orang yang selalu ingat kepada Tuhannya dalam keadaan apapun adalah karakter mulia. Dia mengingatkan orang yang melihatnya untuk berbudi pekerti yang luhur atau mulia, menjadi manusia yang berharga dan bermanfaat, menjadi manusia yang dicari oleh orang lain karena keahliannya, bukan menjadi manusia yang tidak berguna, bukan menjadi sampah masyarakat, dan sebagainya.
Kujang dibuat dalam ukuran besar atau raksasa. Mengapa ? Dalam hidup ini miliki jiwa besar, bukan jiwa yang kerdil. Miliki pandangan atau wawasan yang luas, bukan memiliki wawasan yang sempit.
Berani mengakui kesalahan yang kita
perbuat. Hanya orang yang berjiwa kerdil yang suka menyembunyikan
kesalahannya dan suka mencari kambing hitam. Berani mengakui kesalahan, kelemahan dan
keterbatasan kita. Semuanya itu tidak mencerminkan sikap yang rendah
diri, tapi justru menunjukkan sikap yang sportif. Belajarlah untuk memaafkan kesalahan orang
lain. Hanya orang yang berjiwa besar yang bisa memaafkan, orang
yang lemah cenderung mudah membenci dan menyimpan kesalahan orang
lain (rakarai.abatasa.co.id | 20 Kiat Berjiwa Besar).
Perhatikan berapa mata Kujang dalam gambar diatas ? Ada lima mata Kujang. Kita diingatkan untuk menghargai waktu. Waktu itu ada lima yaitu waktu Isya', Subuh, Lohor (Dhuhur), Ashar, dan Maghrib. Itulah waktu kita selama sehari semalam. Kujang berdiri tegak dan kokoh. Dia mengingatkan bagi orang yang beragama Islam untuk menegakkan shalat lima waktu. Jangan sampai 'roboh' shalatnya. Disamping itu mata Kujang yang lima itu mengingatkan kita akan Pancasila. Sudahkah kita menjiwai sila-sila dalam Pancasila sebagaimana tersebut dalam Pembukaan UUD 1945 ?
Gagang (tangkai) Kujang berwarna hitam. Hitam lambang keabadian. Hidup di dunia ini hanyalah sementara saja, sedangkan akhirat itu abadi. Dunia itu ladang akhirat. Dunia itu tempat mencari bekal menuju akhirat. Untuk mencari bekal tentunya membutuhkan alat, sarana, senjata, dan sebagainya. Doa itu senjatanya orang mukmin. Tiada waktu yang kosong 24 jam penuh di dunia ini orang yang berdoa kepada Tuhan. Doa mohon ampunan atas dosa-dosa yang diperbuat selama ini. Doa mohon keselamatan. Doa mohon diberi rejeki yang melimpah dan barokah. Doa mohon tambahan ilmu dan pemahaman, dan lainnya.
Ketika Kujang raksasa diambil gambarnya disitu ada 'saksi bisu' berupa tiga buah mobil. Mobil yang bagus itu bukanlah apa-apa, tetapi yang mengendarainya itulah yang utama. Manusia yang mengendarai mobil itulah makhluk yang paling mulia di alam ini. Kita diingatkan hendaknya menjadi santri. Santri dari kata insan (manusia) dan tri (tiga). Manusia yang memiliki tiga watak yaitu berhubungan baik dengan Tuhan, berhubungan baik dengan sesama manusia, dan berhubungan baik dengan alam lingkungan. Itulah manusia yang sukses dan berbahagia. Sudahkah kita menjadi santri ?
Magetan, 14 Rajab 1434 H